Selasa, 27 Juli 2010

MANAJEMEN KEBIDANAN

by_sixtia kusumawati

Akar atau dasar manajemen kebidanan, adalah ilmu manajemen secara umum. Dengan memepelajari teori manajemen, maka diharapkan bidan dapat menjadi manajer ketika mendapat kedudukan sebagai seorang pimpinan, dan sebaliknya dapat melakukan pekerjaan yang baik pula ketika menjadi bawahan dalam suatu sistem organisasi kebidanan. Demikian pula dalam hal memberikan pelayanan kesehatan pada kliennya, seorang bidan haruslah menjadi manajer yang baik daam rangka pemecahan masalah dari klien tersebut.

Bidan di dalam prakteknya secara profesional, dituntut tanggung jawab manajerial yang bermutu. Untuk itu metode ilmiah akan dapat dilakukan bila telah memahami betul tekhnik-tekhnik manajemen yang adekuat. Artinya di dalam prakteknya yang penuh tanggung jawab itu dilakukan menggunakan teori-teori dan prinsip manajemen, yang telah diakui secara nasional maupun internasional. Dengan perkataan lain, bidan praktek telah menggunakan manajemen kebidanan yang adekuat dalam memberikan asuhan kebidanan pada kliennya.


A. KONSEP DAN PRINSIP MANAJEMEN PADA UMUMNYA

Menurut John F Mee (1962) “Management is the art of securing maximum result with minimum of effort as to secure maximum prosperiry and happiness for both employer and employee and give the public the best possible services”

Menurut George R. Terry (1966) “Management is distinct process consisting of planning, organizing,actuating, controlling,utilizing in each both science and art and follow in order to accomplish predetermined objectives”

Menurut Scinner and Invanceich (1992) “Management will be defined as application of planning, organizing, staffing, directing, and controlling function in the most efficient manner possible to accomplish objectives”

Kesamaan dan kesimpulan dari pendapat tiga ahli tersebut diatas tentang pengertian manajemen adalah manajemen selalu diterapkan dalam hubungan usaha suatu kelompok manusia dan tidak terdapat suatu usaha dari seseorang atau individu tertentu.

Tiga alasan utama diperlukannya manajemen

1. Mencapai tujuan organisasi

2. Menjaga keseimbangan antara tujuan, sasaran dan kegiatan yang saling bertentangan

3. Mencapai efisiensi dan efektivitas

Menurut ahli manajemen Peter Drucker, efektivitas adalah melakukan pekerjaan yang benar (doing the right things) sedangkan efisiensi adalah melakukan pekerjaan dengan benar (doing things right).

Efisiensi adalah kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan benar. Artinya seseorang yang efisien adalah dimana ia bisa mendapatkan hasil (output) yang maksimal seperti produktivitas dan performance dengan memasukkan (input) yang telah ditargetkan atau masukan yang terbatas.

Efektivitas adalah merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat dalam mencapai tujuan. Individu efektif adalah seseorang yang dapat memilih pekerjaan yang harus dilakukan dengan cara atau metode yang tepat untuk mencapai tujuan.

Pertanyaan yang paling penting adalah bukan bagaimana melakukan pekerjaan dengan benar, melainkan bagaimana menemukan pekerjaan yang benar untuk dilakukan dan memusatkan sumber daya dan usaha pada pekerjaan tersebut.


B. PENGERTIAN MANAJEMEN KEBIDANAN

Manajemen kebidanan adalah suatu metode proses berfikir logis sistematis. Oleh karena itu manajemen kebidanan merupakan alur fikir bagi seorang bidan dalam memberikan arah/kerangka dalam menangani kasus yang menjadi tanggung jawabnya.

Pengertian manajemen kebidanan menurut beberapa sumber :

a. Menurut buku 50 tahun IBI, 2007

Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis mulai dari pengkajian, analisis data, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

b. Menurut Depkes RI, 2005

Manajemen kebidanan adalah metode pendekatan pemecahan masalah ibu dan anak yang khusus dilakukan oleh bidan dalam memberikan asuhan kebidanan kepada individu, keluarga, dan masyarakat.

c. Menurut Helen Varney (1997)

Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, ketrampilan dalam rangkaian/tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan berfokus pada klien.


C. PRINSIP MANAJEMEN KEBIDANAN

Prinsip proses manajemen kebidanan menurut Varney

Proses manajemen kebidanan sesuai dengan standart yang dikeluarkan oleh American College of Nurse Midwife (ACNM) terdiri dari :

a. Secara sistematis mengumpulkan data dan memperbaharui data yang lengkap dan relevan dengan melakukan pengkajian yang keomprehensif terhadap kesehatan setiap klien, termasuk mengumpulkan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik.

b. Mengidentifikasi masalah dan membuat diagnosa berdasarkan interpretasi data dasar

c. Mengidentifikasi kebutuhan terhadap asuhan kesehatan dalam menyelesaikan masalah dan merumuskan tujuan asuhan kesehatan bersama klien.

d. Memberi informasi dan support sehingga klien dapat membuat keputusan dan bertanggung jawab terhadap kesehatannya.

e. Membuat rencana asuhan yang komprehensif bersama klien.

f. Secara pribadi bertanggungjawab terhadap implementasi rencana individual

g. Melakukan konsultasi, perencanaan dan melaksanakan manajemen dengan berkolaborasi dan merujuk klien untuk mendapatkan asuhan selanjutnya.

h. Merencanakan manajemen terhadap komplikasi tertentu, dalam situasi darurat dan bila ada penyimpangan dari keadaan normal.

i. Melakukan evaluasi bersama klien terhadap pencapaian asuhan kesehatan dan merevisi rencana asuhan sesuai dengan kebutuhan.

Proses manajemen kebidanan sebenarnya sudah dilakukan sejak orang mulai menolong kelahiran bayi. Pada zaman dahulu kala perempuan yang sudah berpengalaman melahirkan dipercaya untuk memberikan pelayanan kepada ibu-ibu yang hamil dan melahirkan. Mereka diharapkan mampu memberikan pertolongan kepada ibu yang hamil dan melahirkan. Tentu pertolongan yang diberikan pada masa tersebut hanya berdasarkan pada pengalaman mereka sendiri, namun walau tanpa referensi mereka juga dapat memberikan pelayanan yang untuk menyelamatkan ibu dan bayi.

Pada era millenium yang terus menghadapkan kita pada situasi yang mengandalkan IPTEK membuat kita sebagai bidan maupun penerima jasa pelayanan kebidanan yaitu ibu-ibu yang hamil dan melahirkan semakin kritis terhadap mutu pelayanan kebidanan. Dengan demikian pelayanan yang diberikan sudah selayaknya berdasarkan teori yang dapat dipertanggungjawabkan.

Seorang bidan dalam manajemen yang dilakukan perlu lebih kritis untuk mengantisipasi masalah atau diagnosa potensial. Dengan kemampuan yang lebih dalam melakukan analisa, bidan akan menemukan diagnosa atau masalah potensial ini. Kadangkala bidan juga harus segera bertindak untuk menyelesaikan masalah tertentu dan mungkin juga melakukan kolaborasi, konsultasi atau bahkan merujuk kliennya.

Sebagaimana dikemukakan diatas bahwa permasalahan kesehatan ibu yang ditangani oleh bidan mutlak menggunakan metode dan pendekatan masalah. Sesuai dengan lingkup dan tanggungjawabnya, maka sasaran manajemen kebidanan ditujukan pada individu, ibu dan anak, keluarga maupun kelompok masyarakat.

Upaya menyehatkan dan meningkatkan status kesehatan keluarga akan lebih efektif bila dilakukan melalui ibu baik didalam keluarga maupun keluarga didalam kelompok masyarakat. Manajemen kebidanan digunakan oleh bidan didalam setiap melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan, pemulihan kesehatan ibu dan anak dalam lingkup tanggungjawabnya.

Prinsip-prinsip manajemen kebidanan dalam memberikan asuhan kebidanan:

a. Minimalkan rasa tidak nyaman baik fisik maupun emosi

b. Jaga privacy klien

c. Adaptasikan pola pendekatan ke klien dengan tepat

d. Beri kesempatan kepad klien untuk mendapatkan dukungan

e. Saling bertukar informasi

f. Beri kesempatan klien untuk bertanya

g. Dukung hak klien untuk membuat dan bertanggung jawab terhadap setiap keputusan mengenai perawatan

h. Komunikasikan dengan tim kesehatan lain

i. Terima tanggung jawab dalam membuat keputusan dan konsekuensinya

j. Kembangkan lingkungan yang saling menghargai di setiap interaksi profesional.


D. LANGKAH-LANGKAH MANAJEMEN KEBIDANAN

Penerapan manajemen kebidanan dalam bentuk kegiatan praktek kebidanan dilakukan melalui suatu proses yang disebut langkah-langkah atau proses manajemen kebidanan.

Langkah-langkah manajemen kebidanan tersebut adalah:

a. Identifikasi dan analisis masalah

b. Diagnosa kebidanan

c. Perencanaan

d. Pelaksanaan

e. Evaluasi

Pada tahun 1997, Helen Varney menyempurnakan proses 5 langkah tersebut menjadi 7 langkah. Langkah-langkah tersebut membentuk kerangka yang lengkap yang bisa diaplikasikan dalam semua situasi. Akan tetapi, setiap langkah tersebut bisa dipecah-pecah ke dalam tugas-tugas tertentu dan semuanya bervariasi sesuai dengan kondisi klien.


Bagan kerangka konsep proses manajemen kebidanan


Tujuh langkah manajemen kebidanan menurut Helen Varney

Langkah I : Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk menilai keadaan klien secara keseluruhan

Langkah II : Mengintreprestasikan data untuk mengidentifikasi diagnosa/ masalah

Langkah III : Mengidentifikasi diagnosis/masalah potensial dan menganti-sipasi penanganannya

Langkah IV : Menetapkan kebutuhan akan tindaakn-segera, konsultasi, kolaborasi, dengan tenaga kesehatn lain, serta rujukan berdasarkan kondisi klien

Langkah V : Menyusunrencana asuhan secar menyeluruh denga tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah-langkah sebelumnya

Langkah VI : Melaksanakan langsung asuhan secara efisien dan aman

Langkah VII : Mengevaluasi keefektifan asuhan yang diberikan dengan mengulang kembali manajemen proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif

Melihat kembali penjelasan diatas maka proses manajemen kebidanan merupakan pola pikir bidan dalam melaksanakan asuhan kepada klien. Diharapkan dengan pendekatan pemecahan masalah yang sistematis dan rasional, serta seluruh aktifitas atau tindakan yang diberikan oleh bidan pada klien akan efektif, serta terhindar dari seluruh aktivitas atau tindakan yang bersifat coba-coba yang akan berdampak kurang baik untuk klien.

Setiap langkah dalam manajemen kebidanan akan dijabarkan, sebagai berikut :

  • Tahap Pengumpulan Data Dasar (Langkah I)

Pada langkah pertama dikumpulkan semua informasi (data) yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.

Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara :

1. Anamnesis. Anamnesis dilakukan untuk mendapatkan biodata riwayat menstruasi, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas, bio-psiko-sosio-spiritual, serta pengetahuan klien.

2. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, meliputi :

a. Pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi)

b. Pemeriksaan penunjang (laboratorium dan cacatan terbaru serta cacatan sebelumnya)

Dalam manajemen kolaborasi, bila klien mengalami komplikasi yang perlu dikonsultasikan kepada dokter, bidan akan melakukan upaya konsultasi. Tahap ini merupakan langkah awal yang akan menentukan langkah berikutnya sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi akan menentukan benar tidaknya proses interpretasi pada tahap selanjutnya. Oleh karena itu, pendekatan ini harus komprehensif, mencakup data subjektif, data objektif, dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan kondisi klien yang sebenarnya valid. Kaji ulang data yang sudah dikumpulkan apakah sudah tepat, lengkap, dan akurat.

  • Interpresati Data Dasar (Langkah II)

Pada langkah kedua dilakukan identitas terhadap diagnosis atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar tersebut kemudian di interpretasikan sehingga dapat dirumuskan diagnosis dan masalah yang spesifik. Baik rumusan diagnosis maupun masalah, keduanya harus ditangani. Meskipun masalah tidak dapat diartikan sebagai diagnosis, tetapi tetap membutuhkan penanganan.

Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang sering dialami wanita yang diidentifikasioleh bidan sesuai dengan hasil pengkajian. Masalah juga sering menyertai diagnosis.

Diagnosis kebidanan merupakan diagnosis yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosis kebidanan.

Contoh :

Data : Ibu hamil 8 bulan, anak pertama, hasil pemeriksaan menunjukkan tinggi fundus uteri 31 cm, BJA (+), puki, presentasi kepala, penurunan 5/5, nafsu makan baik, penambahan BB selama hamil 8 kg, ibu sering buang air kecil pada malam hari.

Diagnosis : G1P0A0, hamil 32 minggu, preskep, anak tunggal hidup intrauterine, ibu mengalami gangguan fisiologis pada kehamilan tua.

Perasaan takut tidak termasuk dalam kategori ‘nomenklatur standar diagnosis, tetapi tentu akan menciptakan suatu masalah yang membutuhkan pengkajian lebih lanjut dan memerlukan suatu perencanaan untuk mengatasinya.

Standar nomenklatur diagnosa kebidanan :

1) Diakui dan telah disyahkan oleh profesi.

2) Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan.

3) Memiliki ciri khas kebidanan

4) Didukung oleh clinical judgement dalam praktek kebidanan

5) Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan

  • Identitas Diagnosis/Masalah Potensial dan Antisipasi Penanganannya (Langkah III)

Pada langkah ketiga kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosis potensial berdasarkan diagnosis/maslah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap mencegah diagnosis/ masalah potensial ini menjadi kenyataan. Langkah ini penting sekali dalam melakukan asuhan yang aman.

Pada langkah ketiga ini bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi masalah potensial, tidak hanya merumuskan masalah potensial yang akan terjadi, tetapi juga merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosis tersebut tidak terjadi. Langkah ini bersifat antisipasi yang rasional/logis. Kaji ulang apakah diagnosa atau masalah potensial yang diidentifikasi sudah tepat.

Contoh :

Seorang wanita dengan pembesaran uterus yang berlebihan. Bidan harus mempertimbang kemungkinan penyebab pembesaran uterus yang berlebiahan tersebut (misal : polihidramnion, besar dari masa kehamilan, ibu dengan diabetes kehamilan, atau kehamilan kembar). Kemudian bidan harus melakukan perencanaan untuk mengantisipasinya dan bersiap-siap terhadap kemungkinan terjadinya perdarahan postpartum tiba-tiba yang disebabkan oleh atonia uteri karena pembesaran uterus yang berlebihan.

  • Menetapkan Perlunya Konsultasi dan Kolabirasi Segera dengan Tenaga Kesehatan Lain (Langkah IV)

Bidan mengidentifikasi perlunya bidan atau dokter melakukan konsultasi atau penanganan segera bersama anggota tim kesehatan lain sesuai dengan kondisi klien.

Langlah keempat mencerminkan kesinambungan proses manajemen kebidanan. Jadi, manajemen tidak hanya berlangsung selama asuhan primer periodik atau kunjungan prenatal saja, tetapi juga selama wanita tersebut dalam persalinan.

Dalam kodisi tertentu, seorang bidan mungkin juga perlu melakukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lain seperti pekerja sosial, ahli gizi, atau seorang ahli perawat klinis bayi baru lahir. Dalam hal ini, bidan harus mampu mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa sebaiknya konsultasi kolaborasi dilakukan.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa dalam melakukan suatu tindakan harus disesuaikan dengan prioritas masalah/kondisi keseluruhan yang dihadapi klien. Setelah bidan merumuskan hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi diagnosis/masalah potensial pada langkah sebelumnya, bidan yang harus merumuskan tindakan emergency darurat yang harus dilakukan untuk menyelamatkan ibu dan bayi. Rumusan ini mencakup tindakan segera yang bias dilakukan secara mandiri, kolaborasi, atau bersifat rujukan.

  • Menyusun Rencana Asuhan Menyeluruh (Langkah V)

Pada langkah kelima direncanakan asuhan menyeluruh yang ditentukan berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen untuk masalah atau diagnosis yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi data yang tidak lengkap dapat dilengkapi.

Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi segala hal yamg sudah teridentifiksasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang terkait, tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi untuk klien tersebut. Pedoman antisipasi ini mencakup perkiraan tentang hal yang akan terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling dan apakah bidan perlu merujuk klien bila ada sejumlah masalah terkait sosial, ekonomi, kultural atau psikologi. Dengan kata lain, asuhan terhadap wanita tersebut sudah mencakup setiap hal yang berkaitan dengan semua aspek asuhan kesehatan dan sudah disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu bidan dan klien, agar dapat dilaksanakan secara efektif karena klien juga akan melaksanakan rencana tersebut. Oleh karena itu, pada langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan sesuai hasil pembahasan rencana asuhan bersama klien kemudian membuat kesepakatan bersama sebelum melaksanakannya.

Semua keputusan yang telah disepakati dikembangkan dalam asuhan menyeluruh. Asuhan ini harus besifat rasional dan valid yang didasarkan pada pengetahuan, teori terkini (up to date), sesuai dengan asumsi tentang apa yang dilakukan klien.

Kaji ulang apakah rencana asuhan sudah meliputi semua aspek asuhan kesehatan terhadap wanita.

  • Pelaksanaan Langsung Asuhan dengan Efisien dan Aman (Langkah VI)

Pada langkah ke enam, rencana asuhan menyeluruh dilakukan dengan efisien dan aman. Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian dikerjakan oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukannya sendiri, namun ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya (misalnya dengan memastikan bahwa langkah tersebut benar-benar terlaksana).

Dalam situasi ketika bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, bidan tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana bersama yang menyeluruh tersebut. Penatalaksanaan yang efisien dan berkualitas akan berpengaruh pada waktu serta biaya serta meningkatkan mutu dan asuhan klien.

Kaji ulang apakah semua rencana asuhan telah dilaksanakan.

  • Evaluasi (Langkah VII)

Evaluasi dilakukan secara siklus dengan mengkaji ulang aspek asuhan yang tidak efektif untuk mengetahui faktor mana yang menguntungkan atau menghambat keberhasilan asuhan yang diberikan.

Pada langkah terakhir, dilakukan evaluasi keefektifan asuhan yang sudah diberikan. Ini meliputi evaluasi pemenuhan kebutuhan akan bantuan : apakah benar-benar telah terpenuhi sebagaimana diidentifikasi di dalam diagnosis dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efekif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya.

Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut efektif sedang sebagian lagi belum efektif. Mengingat bahwa proses manajemen asuhan merupakan suatu kegiatan yang bersinambungan, maka bidan perlu mengulangi kembali setiap asuhan yang tidak efektif melalui proses manajemen untuk mengidentifikasi mengapa rencana asuhan tidak berjalan efektif serta pada rencana asuhan tersebut.

Demikianlah langkah-langkah alur berpikir dalam penatalaksanaan klien kebidanan. Alur ini merupakan suatu proses yang berkesinambungan dan tidak terpisah satu sama lain, namun berfungsi memudahkan proses pembelajaran. Proses tersebut diuraikan dan dipilah seolah-olah terpisah antara satu tahap/langkah dengan langkah berikutnya.

Langkah-langkah proses manajemen umumnya merupakan pengkajian yang memperjelas proses pemikiran yang mempengaruhi tindakan serta berorientasi pada proses klinis, karena proses manajemen tersebut belangsung di dalam situasi klinik dan dua langkah terakhir tergantung pada klien dan situasi klinik, maka tidak mungkin proses manajemen ini dievaluasi dalam tulisan saja.


Dari penjelasan diatas dapat digambarkan skema sebagai berikut :

1 komentar: